, – Suara gemuruh alat berat, air danau yang mengeruh menjadi pemandangan yang menghiasi area danau tepatnya di sekitar jembatan Yondo Pamona di Desa Sangele, Kelurahan Pusselemba. Dari tepi jalan raya, kita tak lagi melihat deretan Wayamaspai atau pagar sogili, salah satu teknik tradisional yang digunakan warga untuk menangkap sidat. Dari puluhan wayamasapi, kini hanya tersisa tiga. Pun dua diantaranya telah mengalami kerusakan dibagian bangunan utamanya.

Berkurangnya pagar sogili tak lain karena aktivitas pengerukan permukaan muara danau oleh PT Poso Energy (PE). Fredi Kalengke (45) generasi ketiga pemilik wayamasapi yang masih bertahan, dengan nada pelan mulai menceritakan tergerusnya tradisi dan budaya leluhurnya yang kini diujung tanduk.

Iming-iming ganti rugi menjadi cikal bakal tergerusnya budaya menangkap ikan sidat ini. Ketika satu pemilik wayamasapi melepas pagar sogili, rentetan masalah mulai bermunculan yang akhirnya berdampak terhadap penghasilan mereka, hingga akhirnya satu persatu melepas warisan leluhurnya kepada perusahan.“Wayamasapi bukan sekadar sumber pendapat, tapi budaya leluhur kami. Saya generasi ke tiga,”jelasnya ditemui di rumahnya, Selasa (13/09/2022).

BACA JUGA  Presiden Akan Hadir Pencanangan Sulteng Seribu Megalit

Penyesalan tak merubah apapun, perusahan tetap beroperasi. Meski upaya untuk mempertahakan terus digaungkan Fredi kepada rekan-rekannya, yang akhirnya tunduk dan menerima kompensasi.”Saya punya teman-teman akhinya menyesal. Karena ganti rugi yang diterima tidak jadi apa-apa,”lanjutnya.

Jauh sebelum perusahan mengeruk dasar danau Poso, sidat yang mampu diperoleh mencapai 30 kg setiap malamnya. Jika dikalikan dengan harga satu kg nya Rp.100 ribu, maka Fredi mampu meraup pundi rupiah mencapai Rp3 juta sekali menjaga wayamasapi.

Bujukan serta upaya intimidasi mewarnai kehidupannya untuk mempertahakan warisan leluluhur. Pria tiga anak ini teguh akan pendiriannya, meski sempat mengajukan ganti untung berdasarkan pendapatan terendah yang diperoleh setiap malamnya, namun akhirnya ia tetap bertahan menjaga warisan turun temurun itu.

“Kami pertama tawarkan ke perusahaan Rp8,6 miliar, dengan hitungan pendapatan semalam 5 kilogram selama satu generasi. Perusahaan lalu, menawar Rp4,8 miliar, setengah generasi. Namun ternyata tidak direalisasikan oleh perusahaan. Lalu kemudian perusahaan kembali menawarkan, Rp 3 koma sekian, namun juga tidak direalisasikan. Sehingga terjadi lagi tawar menawar. Akhirnya saya kasih Rp2 koma sekian miliar. Jikalau kurang dari nilai itu, saya tidak akan bersedia.”kenangnya mencertikan proses negosiasi wayamasapi miliknya dengan PT Poso Energy.

BACA JUGA  Tingkatkan Keahlian Sejak Dini, Siswa TK di Palu Diajak Mengenal Kerajinan Melalui Pameran

Angka fantastis itu, bukan tanpa dasar. Sebab pagar sogili miliknya buka ‘siluman' muncul secara tiba-tiba ketika ada ganti untung dari perusahan. Sehingga tekanan dan ancaman ke meja hijau tak membuatnya gentar untuk tunduk melepas warisan leluhurnya.

Diceritakan, wayamasapi memiliki filosofi serta sejarah yang sangat unik. Karena proses pembuatanya tidak hanya sekadar memasang rangkaian tiang kayu. Angka ganjil mendominasi dipembuatan lantai pagar sogili, pucuk tiang yang ditancapkan harus menghadap ke arah hulu danau. Bahkan yang mengelola juga harus berjumlah ganjil.

Wayamasapai bukan sekadar sumber penghasilan, mempertahankannya menjadi bagian dari menjaga kearifan lokal. Agar kelak, anak cucuk kita tak hanya sekadar menghayal membayangkan tradisi dari leluhurnya yang kini diujung tanduk.

BACA JUGA  Harus Siap Menghadapi Perubahan

“Mau dibunuh kita, tetap saya pertahankan pagar sogili,” tegasnya.(Sob)