Madika, Palu – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah meningkat sepanjang 2026. Enam organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah memperkuat tindakan kedaruratan sekaligus pencegahan berbasis masyarakat dan perlindungan ekosistem.

Enam organisasi tersebut yakni Karsa Institute, IMUNITAS, KOMIU, Libu Perempuan, Perkumpulan Evergreen Indonesia, dan ROA (Relawan untuk Orang dan Alam). Pernyataan bersama terkait meningkatnya ancaman karhutla di Sulawesi Tengah disampaikan melalui keterangan tertulis pada, Sabtu (22/8/2026).

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, luas areal karhutla di Sulawesi Tengah pada Januari-Juni 2026 mencapai sekitar 4.147 hektare.

Data tersebut menunjukkan karhutla tidak lagi menjadi persoalan insidental dan membutuhkan strategi pencegahan serta pengelolaan lanskap yang lebih serius.

BACA JUGA  ROA Latih Perempuan Donggala Kelola Pekarangan Jadi Sumber Pangan dan Pendapatan

Sementara itu, pantauan satelit Terra/Aqua NASA yang digunakan dalam data SiPongi mencatat 1.007 titik panas di Sulawesi Tengah pada periode 1 Januari hingga 15 Juni 2026.

Jumlah tersebut meningkat 205 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 330 titik panas.

Lonjakan juga terlihat pada luas lahan terbakar. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, karhutla mencapai 2.222,24 hektare. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 312,15 hektare.

Dalam siaran pers tersebut disebutkan, angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2019.

Sulteng Masuk 10 Besar

BACA JUGA  Cleaning Service Laporkan Oknum Pegawai RRI Terkait Dugaan Pelecehan Seksual