Burung Indonesia Perkuat Konservasi Pesisir dan Ekonomi Warga Banggai Kepulauan
Madika, Luwuk – Burung Indonesia menyelenggarakan lokakarya akhir (final workshop) diseminasi dan refleksi capaian proyek perikanan berkelanjutan serta tata kelola Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Dalaka di Hotel Santika, Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, 23 April 2026.
Lokakarya tersebut menyoroti keberhasilan, tantangan, serta hasil pemantauan partisipatif di KKP3K Dalaka seluas sekitar 856.649 hektare.
Melalui program itu, Burung Indonesia memfasilitasi pengawasan tingkat tapak dengan mengintegrasikan peran instansi pemerintah dan kelompok masyarakat melalui skema Pemantauan Layanan Alam (PLA) Pesisir.
Marine-Fisheries Specialist Burung Indonesia, Wahyu Teguh Prawira, mengatakan sejak dimulai pada 2022, proyek tersebut mendampingi masyarakat di lima desa strategis di wilayah pesisir Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, yakni Desa Tangkop, Okumel, Kinandal, Tomboniki, dan Mamulusan.
Ia menjelaskan, pada aspek regulasi proyek itu juga menghasilkan lima peraturan desa yang diterapkan di masing-masing desa.
Regulasi tersebut bertujuan memperkuat tata kelola perikanan tingkat lokal, mencakup penguatan kelembagaan nelayan, perlindungan ekosistem pesisir, serta pengaturan praktik penangkapan ikan yang lebih bertanggung jawab.
“Program perikanan berkelanjutan di Banggai Kepulauan telah mendorong 97,33 persen perubahan perilaku positif masyarakat dan meningkatkan praktik ramah lingkungan sebesar 66 persen. Inisiatif ini juga mewujudkan 60 persen kemandirian ekonomi perempuan nelayan serta memperkuat tata kelola enam kawasan konservasi,” ujar Wahyu.
Menurutnya, meski masih terkendala akses pasar dan jaringan internet, capaian tersebut menjadi basis data penting bagi penyusunan kebijakan daerah ke depan.
Lokakarya itu melibatkan berbagai pihak, mulai dari tim PLA desa, kelompok nelayan, pemerintah desa, hingga instansi terkait seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Perikanan Kabupaten Banggai Kepulauan, Polairud Polres Banggai Kepulauan, dan UPTD Dalaka.
Kegiatan juga menghadirkan dua sesi diskusi panel yang menempatkan nelayan, pemerintah desa, serta perwakilan kelompok perempuan dampingan sebagai narasumber utama. Mereka berbagi pengalaman mengenai transformasi, tantangan, serta dinamika sosial ekonomi di desa masing-masing.
Salah satu peserta, Nurfadilah selaku Ketua Kelompok Kindal Molumbang dari Desa Kinandal, mengaku kini mampu membantu perekonomian keluarga melalui program pemberdayaan perempuan.
“Melalui program pemberdayaan perempuan yang difasilitasi Burung Indonesia, saya dan ibu-ibu kelompok lainnya sudah paham bagaimana cara mengolah sambal ikan asin dengan standar yang baik, menghitung untung rugi, hingga strategi pemasaran produk kami,” ungkapnya.
Sementara itu, nelayan Desa Mamulusan, Aptrisno, merasakan perubahan hasil tangkapan setelah pengelolaan habitat diperbaiki.
“Dulu ikan sangat sedikit dan hanya singgah mencari makan. Namun setelah kami tahu cara mengelola habitat dengan baik dan cara menangkap yang berkelanjutan, akhirnya banyak ikan yang datang dan jarak memancing ikan jauh lebih dekat, sehingga bisa mengurangi biaya operasional kami,” tuturnya.
Kegiatan refleksi juga dirangkaikan dengan pameran produk perikanan hasil olahan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) perempuan, seperti ikan asin filet, sambal ikan asin, kerupuk ikan, abon ikan, dan bakso ikan.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi tindak lanjut sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi perairan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Banggai Kepulauan.
Program ini menandai akhir pendanaan dari Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman yang diimplementasikan bersama NABU dan berakhir pada 30 April 2026.