Madika, Palu – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Aristan, menyoroti tantangan sektor pertanian menghadapi perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap aktivitas dan produktivitas petani.

Menurut Aristan, kemarau panjang dan perubahan pola cuaca sebagai dampak El Nino menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman di masa depan. Dampaknya sudah dirasakan petani, mulai dari terganggunya pola tanam hingga meningkatnya risiko gagal panen.

“Dampak perubahan iklim sudah nyata dirasakan petani, mengganggu pola tanam, menurunkan produktivitas, bahkan meningkatkan risiko gagal panen,” kata Aristan.

Ia mengatakan perubahan pola curah hujan membuat petani semakin sulit menentukan waktu tanam dan panen. Kondisi cuaca ekstrem, seperti kekeringan panjang dan banjir, juga dapat merusak lahan serta menurunkan hasil tanaman pangan, terutama padi.

BACA JUGA  Dukungan Syarifudin Hafid Antar Arafah Tampil di Ajang E-Sport Internasional di Thailand

Selain itu, peningkatan suhu dan kelembapan dapat mempercepat perkembangan organisme pengganggu tanaman sehingga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.

Karena itu, Aristan menilai sektor pertanian tidak cukup hanya menunggu kondisi cuaca kembali normal. Petani dan pemerintah perlu mengubah cara mengelola tanah, air, tanaman, serta waktu tanam agar pertanian mampu beradaptasi dengan kondisi iklim yang terus berubah.

Menurutnya, strategi adaptasi juga harus disesuaikan dengan kondisi lokal. Pola pertanian di wilayah pesisir, dataran tinggi, sawah, dan kebun memiliki kebutuhan yang berbeda. Begitu pula wilayah yang mengalami kekurangan air membutuhkan pendekatan berbeda dengan daerah yang rawan banjir.

BACA JUGA  Serahkan Pokir, Bunda Wiwik Ajak Makmurkan Masjid

Dalam konteks Sulawesi Tengah, kata Aristan, persoalannya bukan hanya bagaimana petani bertahan menghadapi perubahan iklim, tetapi juga bagaimana pemerintah membangun sistem pertanian yang lebih tangguh.

Sistem tersebut harus mampu menghadapi kekeringan, banjir, perubahan musim, serangan hama dan penyakit, serta gejolak harga hasil pertanian.

Aristan menyebut setidaknya terdapat tiga fondasi penting dalam membangun pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim, yakni tanah yang sehat, pengelolaan air yang baik, serta petani yang memiliki pengetahuan, teknologi, dan akses terhadap informasi iklim.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut perlu diperkuat agar petani memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan dan cuaca.

Ia menegaskan pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim tidak semata-mata bertujuan meningkatkan produksi.

BACA JUGA  DPRD Sulteng Tetapkan Dua Raperda di Luar Propemperda Tahun 2025

Pertanian juga harus memastikan petani tetap mampu hidup layak, ketersediaan pangan terjaga, dan sumber daya alam dapat dipertahankan untuk generasi mendatang.

“Pertanian masa depan membutuhkan setidaknya tiga fondasi utama—tanah yang sehat, air yang dikelola secara baik, serta petani yang memiliki pengetahuan, teknologi, dan akses terhadap informasi iklim,” ujarnya.