Pembelajaran Tatap Muka Harus Menerapkan Prokes Ketat

  • Whatsapp
Anggota Komisi X DPR RI Muhamad Nur Purnamasidi saat memimpin tim kunjungan kerja spesifik Komisi X DPR RI diterima langsung Wali Kota Tanggerang Selatan Airin Rachmi Diany di Kantor Walikota Tanggerang Selatan, Jum’at (27/11/2020). Foto : Andri/Man

Madika, Tanggerang- Anggota Komisi X Muhamad Nur Purnamasidi mengatakan, dirinya mendukung kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang membolehkan digelarnya pembelajaran tatap muka mulai semester genap pada Tahun Ajaran 2020-2021 dengan syarat protokol wajib diketatkan.

“Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Namun hal itu harus dilakukan dengan protokol yang ketat,” ujar Nur Purnamasidi dilansir dari Parlementaria saat memimpin tim kunjungan kerja spesifik Komisi X di Kantor Walikota Tanggerang Selatan, Jum'at (27/11/2020).

Ia menegaskan, harus benar-benar memastikan syarat-syarat pembukaan sekolah tatap muka terpenuhi. Di antaranya ketersediaan bilik disinfektan, sabun dan wastafel untuk cuci tangan, hingga pola pembelajaran yang fleksibel. Penyelenggara sekolah juga harus memastikan bahwa physical distancing benar-benar diterapkan dengan mengatur letak duduk siswa dalam kelas, waktu belajar juga harus fleksibel. “Misalnya siswa cukup datang sekolah 2-3 seminggu dengan lama belajar 3-4 jam saja,” katanya.

Selain itu, juga perlu mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit untuk memastikan sarana prasarana protokol benar-benar tersedia di sekolah-sekolah. “Jangan sampi ketika sekolah sudah di buka kembali syarat protokol kesehatan tidak terpenuhi. Sehingga membuat klaster baru Covid-19,” harapnya.

Dibolehkannya kembali untuk proses belajar mengajar secara tatap muka memang sangat dibutuhkan, terutama di daerah-daerah yang akses internetnya tidak ada. Mengingat, sampai saat ini pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa berjalan efektif karena minimnya sarana prasarana pendukung, seperti ketiadaan dan akses internet yang tidak merata.

“Kami sempat mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, siswa selama benar-benar tidak bisa belajar karena sekolah ditutup. Bukan tidak mungkin hal ini akan memunculkan ancaman loss learning atau kehilangan masa pembelajaran bagi sebagian besar peserta didik di Indonesia,”Nur Purnamasidi – Politisi Partai Golkar

Jika terus menerus terjadi loss learning, dan tidak dicari solusinya, maka akan memunculkan efek domino. Dimana peserta didik akan kehilangan kompetensi sesuai usia mereka. Pembukaan sekolah dengan pola tatap muka tentunya akan mengembalikan ekosistem pembelajaran bagi para peserta didik mengingat hampir satu tahun ini, sebagian peserta didik tidak merasakan hawa dan nuansa sekolah tatap muka.

BACA JUGA  IKA SMAN 4 Palu Gelar Khitanan Massal dan Donor Darah

“Kondisi ini membuat peserta didik kehilangan rutinas dan kedisplinan pembelajaran. Membuka kembali sekolah dengan berinteraksi langsung antara guru dan peserta didik akan membuat mereka kembali pada rutinitas dan mindset untuk kembali belajar,” tuturnya.(dpr)

Terkait